Napak Tilas Jejak Singasari di Candi Jago

Penulis: Sisca Via

Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata ‘Kota Malang’? Apel, ataukah Bakso? Ya, Malang yang relatif dingin itu memang cocok sekali untuk tumbuhnya apel dan menikmati semangkuk bakso yang hangat.

Selama ini yang kita tahu, wisata kota Malang selalu identik dengan kota administratif Batu, yang menyajikan banyak tempat-tempat wisata menarik. Tapi tahukah Anda sekira 20 Km ke arah timur Kota Malang, ada sebuah daerah bernama Tumpang, yang hawanya tak kalah dingin dari Batu? Kecamatan Tumpang, terletak pada ketinggian kurang lebih 700 meter diatas permukaan laut membuat tanah di daerah ini bisa juga ditanami apel yang kualitasnya tak kalah bagus dengan apel Batu.

Bagi pecinta alam, petualang dan pendaki gunung, Tumpang pastinya tak asing di telinga, karena kecamatan ini merupakan akses menuju Gunung Semeru dan Gunung Bromo dari arah Malang. Perjalanan ke Semeru dari Tumpang, menyajikan pemandangan spektakuler yang konon tak bisa dilupakan para wisatawan.

Tak hanya itu, Tumpang ternyata menyimpan potensi wisata lain selain sebagai akses menuju puncak Mahameru. Namun sayang, banyak objek wisata disana yang masih ‘malu-malu’ untuk muncul.

Diantara objek wisata tersembunyi itu, ada sebuah situs bersejarah yang terletak di jantung kota Tumpang, tepatnya di jalan Wishnuwardana Dusun Jago, tepat di belakang pasar Tumpang, yaitu Candi Jago.

Candi Jago bentuknya kecil dan sederhana, bila dibandingkan dengan Borobudur atau Prambanan, tapi tetap saja membuat kagum dan penasaran. Nama asli Candi Jago adalah Jajaghu yang menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton berarti ‘keagungan’. Candi ini didirikan pada masa pemerintahan raja terakhir Singasari yaitu Kertanegara pada tahun 1268 M.

Tujuan pendirian Jajaghu adalah untuk penghormatan pada sang ayah, raja Wishnuwardana yang meninggal pada tahun tersebut. Pembangunan Candi ini memakan waktu cukup lama yaitu sekitar 12 tahun, antara tahun 1268M sampai tahun 1280M.

Menurut cerita, Raden Hayam Wuruk, yang merupakan putra menantu raja Kertanegara, pendiri kerajaan Majapahit juga sering berkunjung kesini, ketika beliau memerintah pada abad ke-13.

Pintu masuk utama candi juga bukan gapura megah. Hanya sebuah pintu kecil yang terletak di bagian samping belakang bangunan. Dari pintu kecil itu, kita seperti dituntun untuk menyusuri jalan setapak yang tersusun rapi dari paving block berwarna pink pucat. Jalan setapak itu nyaman untuk dilewati, dihiasi tanaman hias cantik di kanan kirinya.

Pemerintah Kabupaten Malang rupanya sangat memperhatikan keberadaan situs ini. Terbukti, dari sangat terawatnya taman di lingkungan Candi Jago dan rumah-rumah penduduk yang mengelilinginya.

Sebetulnya untuk pengunjung, tidak dikenakan biaya tertentu untuk masuk ke objek wisata ini. Namun, biasanya, beberapa pengunjung memberi uang dengan sukarela kepada penjaga candi. Atau untuk turis mancanegara, biasanya sang guide yang memberi tips untuk mereka. Jumlahnya tidak ditentukan.

Jalan setapak dari pintu masuk itu menuntun kita sampai ke sebuah ‘sumur’. Bukan sumur sebenarnya. Itu adalah tempat duduk Arca Manjusri, yang kini disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.214. Berhubung arcanya sudah tidak ada, bekas tempat duduk yang bolong itu terisi air hujan dan membentuk sumur.

Dari ‘sumur’ tempat duduk Arca Manjusri, saya bisa melihat candi menjulang tinggi diatas saya. Terbesit keinginan untuk menaiki sampai ke atas. Saya meniti tangga dari batu andesit dengan hati-hati karena anak tangga itu sempit. Beberapa pengunjung malah melepas alas kakinya agar tidak tergelincir.

Ketika saya sampai ke puncak, terhampar luas kota Tumpang dan terlihatlah bagian-bagian candi. Ada tiga bagian yang merupakan penyanggah badan bangunan bersejarah itu. Bagian paling bawah agak menjorok ke depan, seperti teras sebuah rumah. Kemudian bagian tengah dan pada puncak, terdapat sebuah ‘pintu’ menyerupai gapura bertengger.

Dilihat dari bentuknya, Candi Jago ini menunjukkan ciri khas bangunan suci agama Buddha dan Raja Wishnuwardana adalah raja yang menganut agama Syiwa Buddha, yaitu sebuah aliran perpaduan antara ajaran Buddha dan Hindu. Sebagaimana kita tahu bahwa Kerajaan Singasari adalah kerajaan penganut aliran Syiwa Buddha.

Candi Jago mempunyai bentuk segiempat yang melebar dengan luas 23 x 14 meter dan tingginya 9 meter. Namun menurut legenda setempat, tinggi asli candi ini sebenarnya mencapai 15 meter. Karena tersambar petir, atap candi hilang dan sisanya hanya yang bisa kita lihat sekarang ini.

Seluruh dinding candi terukir relief-relief cerita tentang Kresnayana, Parthayana, Arjunawiwaha, Kunjakarna dan Anglingdharma. Jika kita mengikuti relief itu dengan berjalan keliling searah jarum jam, maka kita akan disuguhkan dengan cerita sejarah gemilang dimasa lalu. Cerita kejayaan, kepahlawanan dan fabel-fabel sumber kebijaksanaan dan nasehat.

Bagaimana? Anda mulai tertarik dengan candi kecil kita ini?

Jika Anda tertarik, Anda bisa mulai merencanakan mengunjunginya saat liburan nanti. Untuk mencapai Tumpang tidak sulit. Dari Jakarta atau Bandung, Anda tentu harus pergi ke kota Malang dulu. Jika Anda menumpang kereta,  Anda bisa turun di stasiun Kota Baru, lalu naik angkutan umum yang menuju terminal Arjasari. Dari terminal tersebut, Anda lanjut naik angkot TA (Tumpang-Arjosari) yang berwarna putih lalu turun di pasar Tumpang. Ongkos angkot ini Rp. 6000, cukup murah mengingat jarak yang demikian jauh.

Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, akses ke daerah ini bisa ditempuh dengan menyusuri Jalan Basuki Rahmat Malang, sampai ke pertigaan Blimbing, lalu belok ke kanan, ke Jalan Laksamana Adi Sucipto, kemudian lurus saja sampai bertemu dengan pasar Tumpang.

Meski berjarak 20 Km, Anda bisa menempuh perjalanan dari pusat kota Malang hanya sekitar setengah jam saja. Ini karena kondisi jalan yang beraspal bagus dan lalu lintas yang lancar. Tidak banyak hotel atau penginapan di sekitar Tumpang. Tapi ada satu tempat penginapan yang cukup terkenal disana karena sering digunakan untuk acara-acara Outbound, yaitu Pondok Wisata Gunung Tabor yang terletak di Desa Tulus Besar Tumpang (Telepon 0341- 787711 / 0341- 787941).

Menikmati candi Jago yang mungil ini tidak memerlukan waktu lama. Hanya beberapa kali putaran dan jeprat jepret sana sini, pengunjung biasanya langsung pulang. Tapi ketika di rumah dan melihat-lihat lagi hasil foto, membuat bulu kuduk merinding. Betapa kejayaan masa lalu bangsa Indonesia demikian hebat, hingga bisa menciptakan bangunan dari batu Andesit yang keras dan berat, berikut dengan ukiran-ukiran relief yang sarat makna. Sebuah bangunan bersejarah yang begitu megah dan agung yang selama itu ‘tersembunyi’ di sebuah dusun bernama Dusun Jago, Tumpang, Malang, Jawa Timur. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here