Kawani Sepi Pengunjung

Pengunjung mengabadikan momentum di Kampung warna-warni.

JELAJAH NUSA, BOGOR – Tidak seperti saat awal dibuka, Kampung Warna Warni (Kawani) yang berlokasi di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, tak seramai dulu. Masyarakat mengeluhkan sepinya pengunjung yang datang belakangan ini.

Demikian dituturkan Saeful Bahri, salah satu pengurus harian Kawani saat ditemui Radar Bogor, kemarin mengakui, dalam beberapa waktu terakhir Kawani tak seramai seperti pada saat musim kemarau yang airnya relatif stabil dan jernih. Akan tetapi, peminat Kawani tetap ada sekali pun di musim hujan.

”Kalau di hari-hari biasa, kita bisa ukur dari jumlah wisatawan yang mandi. Bisa ada sekitar 20 disewa. Dan itu kami catat. Kalau di akhir pekan, pengunjungnya naik drasitis. Bisa antara 100 – 250 orang,” katanya.

Ditanya lebih dalam tentang Kawani, Saeful mengakui, dijuluki Kampung Warna-Warni lantaran hampir seluruh wilayah tersebut dicat warna-warni oleh masyarakat secara swadaya. Upaya mereka pun berhasil merubah image Katulampa sebagai salah satu destinasi wisata air paling fenomenal di Kota Hujan.

”Sekarang ini beberapa cat mulai memudar. Sepertinya dalam waktu dekat kita harus cat lagi. Supaya tempatnya juga terlihat lebih artistik, rapi, dan estetik. Semuanya kita lakukan dengan upaya swadaya. Murni dana dari kami. Dari hasil pengelolaan juga,” katanya melanjutkan.

Anak-anak bermain di Kampung Warna Warni.

Saat disinggung terkait peran pemerintah untuk memberikan bantuan, Saeful tampaknya sedikit berubah nada. Ia mengatakan, selama ini pemerintah memang sering memberikan dukungan dan support kepada warga Katulampa. Akan tetapi, support yang diterima lebih kepada pesan motivasi secara moril kepada masyarakat Katulampa. Bantuan secara resmi dan jelas yang sifatnya resmi dari pemerintah, kata Saeful, masih sangat terbatas.

”Kita juga tidak ingin terlalu mengemis. Yang penting kita tetap berusaha untuk mempercantik Kawani. Kalau sudah dicat nanti, kita ingin bikin promosi tempat ini lebih maksimal lagi. Berharapnya bisa menjadi salah satu tempat wisata bombastis di Kota Bogor,” jelasnya.

Kendala lainnya yang sering dihadapi pengurus Kawani adalah soal lahan parkir. Tak sedikit wisatawan dari luar daerah yang harus tarik diri lantaran tak ada tempat parkir. Pada saat akhir pekan, Kawani selalu ramai. Kiri-kanan jalan antri berbagai kendaraan roda dua maupun roda empat. Ke depannya, pihaknya harus mulai berpikir untuk mencari lahan parkir yang representatif kepada para wisatawan.

”Berharap kepada pemerintah, ya tentunya pasti. Tapi kita tidak ingin menggantungkan harapan itu. Yang paling penting sekarang, kami berharap upaya promosi tempat wisata ini bisa terus dilancarkan pemerintah. Kita diakui saja sudah senang kok. Apalagi kalau dibantu fasilitasi secara resmi dari Pemkot,” terang dia.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay mengakui, Kota Bogor memiliki potensi sektor pariwisata yang sangat besar. Namun, ia juga melihat, sebagian warga Kota Bogor masih perlu diberikan pembinaan dan pemahaman terkait prinsip Sadar Wisata. Prinsip tersebut menurutnya jauh lebih penting dari pada membangun infrastruktur fisik wisata.

Ia mengakui, potensi pariwisata di Kawani sangat besar. Namun, ada beberapa hal yang menurutnya harus dibenahi oleh berbagai pihak. Ia sendiri mengatakan sudah berkoordinasi dengan beberapa pengurus Kawani jika ke depannya pembinaan Sadar Wisata akan lebih gencar dilakukan.

Pembangunan infrastruktur fisik pariwisata, kata Yuno, memang penting. Yang jauh lebih penting dari itu adalah membangun infrastruktur sumber daya masyarakat agar memahami potensi wisata.

”Saya sudah pernah berbicara dengan beberapa pengurus Kawani. Bahkan beberapa tempat wisata fisik lainnya juga sudah saya sudah berbicara,” kata Yuno.

Warga asyik foto selfie.

Pengalamannya selama ini, ada beberapa tempat wisata di luar Kota Bogor, yang kemudian memiliki image buruk lantaran sikap masyarakatnya kurang memahami Sadar Wisata. Ia mencontohkan salah satu kasus di sebuah tempat wisata, banyak pengunjung yang tertarik datang ke tempat tersebut. Namun, wisatawan mengeluh lantaran sikap masyarakatnya yang kurang bersahabat.

”Ada yang menarif parkir dengan harga tak wajar. Atau menarik parkir sampai tiga kali berturut-turut di tempat yang berbeda-beda. Ini yang membuat image pariwisata jadi jelek. Nah, kasus-kasus seperti ini menjadi bukti kesiapan infrastruktur fisik pariwisata tidak didukung oleh infrastruktur manusianya,” ujar pria yang juga pernah berprofesi sebagai dokter.

Yuno optimis, melalui pemahaman Sadar Pariwisata yang baik, pembangunan infrastruktur pariwisata justru akan semakin lebih mudah ketimbang membangun infrastruktur fisik. Kota Bogor, kata dia, secara bertahap akan terus didorong untuk lebih memahami sadar pariwisata. Sebab, esensi pariwisata adalah pelayanan. Semakin baik masyarakat melayani wisatawan, semakin baik pula citra pariwisata tersebut.

“Kita ingin memberikan kenangan manis kepada wisatawan. Mereka tak hanya terpesona dengan objek pariwisata di Kota Bogor, tapi kagum dengan masyarakatnya yang sangat welcome dan aware,” pungkasnya. (latifa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here