Wednesday , August 22 2018
Home / Aktivitas / Pemkab Banyuwangi Batasi Pembangunan Hotel

Pemkab Banyuwangi Batasi Pembangunan Hotel

Hotel Dialoog di Jalan  Yos Sudarso,Banyuwangi ini menawarkan keindahan alam saat sunset. Foto:IG

JELAJAH NUSA – Pemerintah Kabupaten Banguwangi, Jawa Timur mengeluarkan regulasi pembatasan pembangunan hotel. Kebijakan ini dilakukan untuk menghindari anjloknya okupansi hotel seprti yang terjadi di daerah lain.

Belakangan,pariwisata Banyuwangi yang terus menggeliat ditunjang dengan pertumbuhan hotel yang signifikan. Saat ini, di Banyuwangi telah ada 61 hotel mulai dari kelas melati hingga bintang empat. Untuk hotel berbintang tiga dan empat, sudah terdapat 12 hotel.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengemukakan, pertumbuhan hotel tersebut tumbuh cukup ideal seiring peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Tahun lalu, jumlah wisatawan mancanegara 98.970 orang. Sedangkan wisatawan domestik mencapai 4,8 juta.

“Okupansi rata-rata hotel di Banyuwangi dalam satu tahun mencapai 60 persen. Dalam kasus beberapa hotel berjejaring di Banyuwangi, justru okupansi mereka berada di atas okupansi hotel jaringannya secara nasional,” ujarnya Rabu (8/8/2018).

Meski jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat, lanjut Anas, pertumbuhan hotel di Banyuwangi bukan berarti tanpa kontrol. Tidak semua hotel yang mengajukan izin di Banyuwangi dapat direalisasikan. Pembangunan hotel baru harus tetap terkontrol.

“Kita batasi izin hotel baru di Banyuwangi agar tidak seperti di daerah wisata lain. Ketika ratusan hotel baru dibangun, ternyata okupansinya rendah, dan akhirnya perang harga tidak keruan,” terangnya.

Hotel yang diizinkan pun, harus memenuhi kualifikasi tertentu. Mulai dari arsitekturnya yang mengadaptasi tradisi ataupun budaya lokal, juga harus hotel berbintang tiga ke atas.

“Jika hotel bintang dua ke bawah, tidak kami izinkan. Biar pasar hotel bintang dua ke bawah dinikmati homestay-homestay yang dikelola rakyat Banyuwangi,” paparnya.

Untuk mendorong tingkat kunjungan, imbuh Anas, Banyuwangi tidak hanya menyasar wisatawan yang akan melakukan pelesir. Namun, juga menyasar pada kedatangan para tamu yang melakukan wisata pelayanan publik.

Berbagai inovasi kinerja pemerintahan daerah yang berhasil dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi menjadi daya tarik untuk melakukan kunjungan kerja ke ujung timur Pulau Jawa tersebut.

“Pada tahun lalu, setidaknya ada 39 ribu tamu dengan kategori kunjungan kerja maupun pertemuan khusus di Banyuwangi. Tahun ini, kita menargetkan bisa mencapai 50 ribu kunjungan dari pemerintah daerah lain, lembaga pemerintah, maupun BUMN yang ingin melihat inovasi pelayanan publik Banyuwangi,” harapnya.

Sementara saat ini, kata Anas, Banyuwangi mendapatkan tambahan hotel berbintang empat. Ini mencukupi pemenuhan kamar hotel eksklusif. Hotel tersebut adalah Hotel Dialoog, yang berada di kawasan Kalipuro yang langsung menghadap ke Selat Bali.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (tengah) saat menerima penghargaan internasional melalui Inovasi pengembangan pariwisata daerah berjuluk The Sunrise of Java, Banyuwangi menyabet penghargaan tertinggi bidang pariwisata tingkat Asia Tenggara, yaitu ASEAN Tourism Standard Award kategori clean tourist city dalam ajang ASEAN Tourism Forum di Thailand. Foto:IG

Anas mengapresiasi dibukanya Dialoog Hotel yang merupakan jaringan Alila Group yang terkenal dengan hotel dan resor berkonsep unik dan hijau. Hal tersebut semakin mendukung amenitas alias infrastruktur penunjang pariwisata di Banyuwangi.

“Segmentasi dari Dialoog Hotel ini yang cukup berbeda dengan hotel-hotel yang telah ada akan memperkaya pilihan bagi para wisatawan, pebisnis, maupun masyarakat umum yang akan berkunjung ke Banyuwangi,” kata Anas.

Sementara itu, Managing Director Hotel Dialoog Erick Fiavre mengatakan, pihaknya bangga bisa mendirikan hotel di Banyuwangi yang tengah bertumbuh pariwisatanya.

“Kami ingin menjadi bagian dari pertumbuhan banyuwangi. Banyak wisatawan mengenal Banyuwangi sebagai daerah dengan destinasi wisata yang potensial misalnya Gunung Ijen, Sukamade, Taman Nasional Alas Purwo, dan G-Land,” ujarnya.

Selain destinasi wisata banywuangi yang sangat potensial, ada hal lain yang membuat pihaknya tertarik mendirikan hotel di Banyuwangi. Yakni pengembangan infrastruktur, khususnya masalah akses.

“Ada direct flight dari ibu kota Jakarta ke Banyuwangi sehari lima kali. Selain itu, Banyuwangi terus mendorong penerbangan internasional. Ini adalah salah satu alasan kenapa kami hadir di sini,” kata dia.

Hotel bintang empat mengambil lokasi di pinggir pantai. Terdiri atas 116 kamar yang terbagi dalam kelas deluxe dan suite. Selain itu, juga dilengkapi dengan beach club yang langsung menghadap ke Selat Bali yang eksotis.

(adh)

Check Also

Trademark: 10 to The Future

JELAJAH NUSA – Bandung telah menjadi ikon tempat lahirnya brand-brand lokal berkualitas. Oleh karena itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

bankbjb.co.id