Friday , November 16 2018
Home / Lifestyle / Panatacara Peduli Dengan Wedding Organizer di Kota Bandung

Panatacara Peduli Dengan Wedding Organizer di Kota Bandung

Foto Bersama Himpunan Pengusaha Penata Acara (Panatacara) yang dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Bandung Dewi Kaniasari (Foto. Handry Jelajah Nusa)

Jelajah Nusa – Panatacara (Perhimpunan Pengusaha Penata Acara) di Kota Bandung saat ini tidak menginduk kemana-mana, kepada Wedding Organizer yang ada di kota Bandung terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena pertumbuhan Wedding Organizer di kota Bandung cukup bagus, terlihat dari 50 anggota yang bergabung secara resmi di Panatacara, dan masih ada 110 Wedding Organizer yang belum bergabung ke dalam Panatacara.

Himpunan Pengusaha Penata Acara (Panatacara) Kota Bandung akan terus menghimpun, membina, dan memberdayakan para pengusaha penata acara (Wedding Organizer) yang ada di kota Bandung, dan target Panatacara ke depan adalah menjadi badan akreditasi yang memberikan sertifikasi bagi Wedding Organizer di kota Bandung.

Hal ini terungkap saat pelantikan kepengurusan Himpunan Pengusaha Penata Acara (Panatacara) Kota Bandung Periode 2018-2021, Selasa, (31/7/2018), di Hotel Aryaduta jalan Sumatera Bandung.

Turut hadir dalam acara pelantikan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Bandung Dewi Kaniasari, Ketua Panatacara Kota Bandung Cusi Dwi Yonanti, Wakil Ketua Panatacara Kota Bandung Mery Vitaloca, dan Ketua Dewan Pembina Panatacara Kota Bandung Buwana Oejeng Soewargana.

Saat sesi Press Conference, Ketua Panatacara Kota Bandung Cusi Dwi Yonanti mengatakan, Panatacara Kota Bandung didirikan untuk memberikan edukasi kepada para Wedding Organizer yang telah menjadi anggota Panatacara, “Kita tidak berafiliasi dengan instansi manapun, tetapi kita bekerjasama dan bersinergi,” ungkapnya.

Cusi Dwi Yonanti mengungkapkan, kendala bagi Wedding Organizer yang belum bergabung ke Panatacara karena mereka kaget administrasinya harus tertib dan harus berdomisili tetap, “Hal ini dilakukan karena Panatacara tidak akan sembarangan memberikan piagam keanggotaan, sebab setiap anggota akan membawa nama Panatacara untuk Selling Point mereka,” ujarnya.

“Calon Anggota Panatacara cukup memberikan domisili tempat usaha dari RT dan RW dan tidak perlu berbentuk CV dan PT, hal ini dilakukan untuk menghindari hit and run,” kata Cusi Dwi Yonanti, “Karena dahulu ada kasus Wedding Organizer (WO) membawa lari uang Customer, lalu enam bulan kemudian muncul dengan nama WO baru,” ungkapnya.

Mengenai pergerakan Panatacara, Cusi Dwi Yonanti mengatakan, Panatacara saat ini belum masuk ke daerah-daerah, dikarenakan WO di kota Bandung masih banyak yang belum terjamah, “Namun Wedding Organizer (WO) di daerah akan kita undang untuk pelatihan melalui sanggar rias, karena cikal bakal WO ada di sanggar rias dan para periasnya,” ungkapnya.

Mengenai gebrakan Panatacara, Cusi Dwi Yonanti mengungkapkan, ke depan Panatacara akan membuat gebrakan dengan membuat pelatihan Wedding Organizer bagi anggota secara gratis, dan anggota Panatacara akan mendapat benefit penuh, “Pelatihan diadakan agar Standard Operating Procedure (SOP) seluruh Wedding Organizer di kota Bandung sama,” tegasnya, “Maka Panatacara dalam keanggotaan ada anggota Muda, Madya, dan Utama,” ujarnya.

Cusi Dwi Yonanti berharap, Weding Organizer (WO) yang menjadi anggota Panatacara jangan berhitung ketika melayani klien “Wedding Organizer harus melayani klien walaupun tidak diminta, dan WO harus inisiatif serta berdedikasi tinggi saat melayani klien di acara pernikahan,” tegasnya.

“Kami mencermati adanya program magang, yaitu mereka yang sudah dua tiga kali menjadi Freelancer Wedding Organizer dan pada akhirnya memakai brand atau bendera sendiri,” kata Cusi Dwi Yonanti, “Mereka-mereka inilah yang akan Panatacara rangkul, supaya ke depannya mereka lebih dewasa dalam segi mental dan berkompeten, karena apabila mereka mendapatkan kesulitan atau melarikan uang klien, otomatis akan mencoreng profesi Wedding Organizer,” tegasnya,

“Panatacara memiliki program pelatihan dan pengembangan usaha, nantinya kita akan membuka program magang dengan target Wedding Organizer yang sedang berkembang dan mahasiswa Fresh Graduate,” kata Cusi Dwi Yonanti, “Dalam kegiatan, Panatacara akan berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung,” ujarnya, “Ke depan Panatacara akan menjadi badan akreditasi serta memberikan sertifikasi bagi Wedding Organizer yang ada di kota Bandung”.

Mengenai tips memilih Wedding Organizer (WO) yang baik, Cusi Dwi Yonanti mengatakan, pilihlah WO yang memiliki background baik, memiliki vendor yang baik, dan klien berhak mendapat referensi WO tersebut, “Wedding Organizer harus dapat mempresentasikan acara pernikahan dengan baik”.

Mengenai perkembangan Wedding Organizer di kota Bandung, Cusi Dwi Yonanti di akhir paparannya mengungkapkan, di tahun 1999 profesi Wedding Organizer (WO) di kota Bandung masih bisa dihitung dengan jari, ”Namun di tahun 2010 profesi Wedding Organizer berkembang pesat menjadi ratusan”.

Ketua Panatacara Kota Bandung Cusi Dwi Yonanti, Wakil Ketua Panatacara Kota Bandung Mery Vitaloca, dan Ketua Dewan Pembina Panatacara Kota Bandung Buwana Oejeng Soewargana (Foto. Handry Jelajah Nusa)

Ketua Dewan Pembina Panatacara Kota Bandung Buwana Oejeng Soewargana mengatakan, saat ini Wedding Organizer dibutuhkan semua lapisan masyarakat dari mulai kota kecil hingga kota besar, “Dahulu yang menentukan pernikahan adalah orang tua, namun saat ini yang menentukan adalah calon mempelai,” ungkapnya, “Jasa Wedding Organizer diperlukan karena biasanya calon mempelai sibuk bekerja, dan sangat jarang ditemukan ada panitia pernikahan dari pihak keluarga, karena biasanya mereka kurang mengerti prosesi pernikahan dan memang bukan porsinya”.

Buwana Oejeng Soewargana menegaskan, profesi Wedding Organizer saat ini sangat menjanjikan, “Karena pernikahan akan selalu berlangsung dan tidak akan pernah berhenti,” ungkapnya, “Bahkan potensi bisnis dan pangsa pasar Wedding Organizer sangat luas, sebagai ilustrasi, satu bulan ada empat Weekend, dan dalam satu minggu ada dua hari untuk acara pernikahan yaitu Sabtu dan Minggu, maka terdapat delapan hari dalam satu bulan untuk acara pernikahan, maka dapat dibayangkan berapa ratus gedung, hotel dan bangunan yang ada di kota Bandung yang digunakan untuk acara pernikahan dalam satu bulan,” ujarnya, “Pastinya satu pernikahan akan melibatkan 16 vendor”.

Buwana Oejeng Soewargana mengungkapkan, grafik pangsa pasar Weding Organizer seperti belah ketupat, “Pangsa pasar menengah ke bawah akan semakin mengecil, dan pangsa pasar menengah ke atas juga akan semakin kecil, namun pangsa pasar menengah masih cukup besar yaitu di kisaran 500 pax atau 1000 undangan, atau berbujet Rp.150 juta hingga Rp.200 juta”.

Di akhir paparannya Buwana Oejeng Soewargana mengatakan, bisnis Wedding Organizer (WO) merupakan bisnis kepercayaan, karena apabila klien puas, bisa dipastikan WO tersebut akan dipercaya menghandle acara pernikahan anak kedua, ketiga, dan bahkan direkomendasikan ke sanak saudara klien tersebut. (Hny)

Check Also

Kerja Sambil Berlibur Hanya di Aston Bogor Hotel & Resort

Jelajah Nusa – Kesibukan pekerjaan terkadang kita  tidak memperhatikan kebutuhan akan liburan atau sekedar santai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

bankbjb.co.id