Mengenal Fithri Mayasari, Sang Arsitek yang Sukses Bisnis Hijab

Owner Zizara, Fithri Mayasari

JELAJAH NUSA, DEPOK – Tren busana muslim di Indonesia terus berkembang. Bisnis busana muslim bukan hanya untuk mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tata busana. Di luar itu, malah banyak para praktisi bidang lain yang sukses berbisnis busana muslim.

Dialah Fithri Mayasari. Owner brand hijab Zizara ini ternyata merupakan seorang arsitek. Dirinya mulai menekuni bisnis fashion muslimah karena memiliki ketertarikan setelah melihat geliat hijab di Indonesia.

Kepada Jelajah Nusa, Fithri mengatakan awal mula dirinya menekuni bisnis busana muslim karena untuk kebutuhan sehari-harinya. Dari awal, dirinya memang sudah menyukai jahit menjahit.

Dirinya yang berlatar belakang seorang arsitek menyukai jahit menjahit seperti membuat bantal dan pernak pernik.

Selama tujuh tahun, dirinya bersama suami bekerja di bidang arsitektur. Bekerja di sebuah perusahaan kontraktor hingga memiliki perusahaan sendiri di bidang arsitek ternyata tidak membuatnya puas.

Hobinya menggambar dan membuat design memudahkan dia dalam urusan design busana.

“Dulu sekitar tahun 2012, tren busana muslim mulai naik. Banyak hijaber bermunculan, namun masih sedikit yang berbusana lebar. Nah, saya punya ketertarikan ke situ (hijab syar’i). Akhirnya, saya memutuskan untuk belajar menjahit dengan ikut kursus di tahun 2013,” ujar Fithri kepada Jelajah Nusa di Gerai Zizara, Jalan KHM Usman, Kukusan, Beji, Kota Depok, belum lama ini.

Perempuan lulusan Teknik Arsitektur Universitas Indonesia ini mengaku tak menyangka saat pertama kali mulai memproduksi busana muslim. Antusiasme teman-teman di media sosialnya sangat besar.

Koleksi Busana Zazira

Setelah dianggap bisa menjahit, dia mulai membuat satu baju untuk dipakai sendiri. Baju tersebut dia foto lalu diupload ke Instagram. Respon followers nya pun cukup baik, dalam waktu dua jam, baju yang dia bikin sudah ada yang memesan.

Keesokan harinya, dirinya kembali memproduksi busana sebanyak satu lusin. Dalam waktu singkat, baju yang dia produksi pun banyak yang memesan hingga habis. Melihat peluang tersebut, dirinya semakin bersemangat dan meningkatkan kapasitas produksi.

“Awalnya hanya modal Rp 4 juta, bikin satu lusin. Tapi Alhamdulillah respon bagus. Lalu saya bikin lagi dua kali lipat. Dulu saya hanya maklon, ikut jahit ke konveksi orang lain. Namun Alhamdulillah, seiring waktu usaha berkembang dan memiliki konveksi sendiri,” ujar dia.

Untuk membesarkan bisnis hijabnya, dirinya tak mau ada campur tangan orang lain. Segala kendali dia yang pegang. Mulai dari pemilihan bahan, design, marketing hingga media sosial.

Menurut dia, agar bisnis nya berkembang, dirinya harus fokus dan bisa menguasai segala hal. “Termasuk Quality Control pun saya dan suami yang handle” tegas Fithri.

Lebih lanjut, bisnisnya terus berkembang pesat karena membuka reseller. Hingga saat ini, dirinya sudah memiliki lebih dari 150 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan, ada reseller yang berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam hingga Jepang.

Daya tarik Zizara, kata Fithri karena busana yang diproduksi bisa digunakan oleh para traveler muslimah. Meskipun berhija lebar, namun para muslimah masih tetap bisa traveling hingga naik gunung. Tentu saja, untuk traveling, muslimah menggunakan tunik dan kulot yang lebar.

” Karena saya suka traveling, maka saya pun suka pemotretan di nuansa alam terbuka. Kadang saat traveling, saya bawa baju untuk di foto,” ujar dia. (taofik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here