Fantasie Chamber Music Tutup Season Keempat Bandung Philharmonic

Jelajahnusa,BANDUNG – Chamber Music Series bertema Fantasie menutup rangkaian pertunjukan musik season ke empat yang digelar Bandung Philharmonic di Hotel Hilton Bandung pada Minggu, 28 April 2019. Penampilan apik dari Cooper Wright yang mengalunkan melodi Obo mengajak penonton bernostalgia pada musisi Johann Christian Bach (1735-1782), Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) dan Benjamin Britten (1913-1976).

Nada indah Obo yang dimainkan Cooper merangkai bersama gesekan cello yang dimainkan Matteo Montanari, violin dari Amelia Tionanda dan viola dari Jane Irene.Selain itu, pada sesi lainnya, keempat musisi tersebut mamainkan lagu Sabilulungan yang digubah oleh Marissa Sharon Hartanto. Gemuruh tepuk tangan penonton tak henti ketika lagu Sabilulungan selasai dimainkan dengan apik.

Pada Kwartet Obo dalam B-flat mayor, sang musisi memainkan musik peninggalan Sabastian Bach. Kwartet Obo dua bagian ini berlangsung selama 10 menit dan merupakan karya yang mendemonstrasikan gaya Galant. Bagian pertama Allegro dimulai dengan melodi kentara obo yang diiringi setia oleh bagian gesek. Terdapat permainan bergiliran antara bagian gesek dan obo, namun obo tetap mendapat perhatian utama.

Kejelasan struktural tampak jelas dalam repetisi yang divariasikan dengan sederhana lalu diakhiri dalam pernyataan kembali dari into. Bagian kedua rondeau: Grazioso dimulai dengan motif mirip seperti bagian pertama namun dimainkan dengan lebih lembut dan pelan. Pengulangan struktural juga dimasukan dengan variasi singkat di mana bagian gesek secara dominan memainkan melodi emotif yang diiiringi oleh obois. Karya ini berakhir denngan pernyataan ulang dari intro dengan cara menenagkan.

Pada Obo F mayor, para musisi memainkan gubahan musik karya Mozart. Karya Tiga bagian ini didesain untuk menunjukkan bunyi obo yang unik dan kemampuan oboist memainkan alat musik tiup ini, dengan iringan alat musik geset yang melengkapi. Bagian pertama allegro dimulai dengan permainan riang dan anggun yang memimpin dari obo, yang berlanjut dengan permainan ’mimikri’( meniru) antara oboe  dan bagian geser. Bagian kedua adagio dimulai dengan nuanas melankolis yang dipimpin secara perlahan-lahan oleh obois, yang kemudianseperti ’bernyanyi’ seperti sebuah aria (solo vokal dalam opera), menunjukkan fleksibelitas alat musik ini. Bagian ketiga rendeau: allegro menutup karya ini dengan bagian desek yang menggantikan peran sebuah orkestra, sedangkan obois bermain seperti seorang solois dalam sebuah konserto. Di sini, Mozart dengan jenius menggunakan polyrythm (lebih dari satu birama) dengan menyandingkan birama 6/8 untuk bagian gesek sejajar birama berbeda dari obo yakni 4/4. Seperti Friedrich Ramm, penonton mendengar virtuoso obois dalam menjejalkan semua not dengan amat cepat dan padat sementara bagian geser mengiringi tenang.

Di bagian Sabilulungan Oboe for kuartet, sang komposer terinspirasi pada percaturan politik di Indonesia yang memisahkan antara satu sama lain. Karya ini sebuah harapan agar kedamaian dan harmoni di Indonesia tetap terjaga dan sebagai pengingat bahawa Indonesia adalah negara satu meskipun berbeda pilihan.

Nada untuk karya ini diambil dari lagu Sabilulungan yang diciptakan oleh Mang Koko (Pnulis Sunda terkenal abad 20). Melodi singkat yang terdiri atas 6 not pada lagu tersebut dikenal luas oleh masyarakat dan telah menjadi salah satu ciri khas lagu Sunda.

Sementara pertunjukkan terakhir, Pada kwartet Fansasie, para musisi mengambil dari karya Benjamin Britten. Komponis muda ini memulai karyanya dengan barisan pizzicato (petikan) dari bagian gesek. Diikuti dengan melodi lembut dari obo. Barisan dari bagian gesek ini berlanjut dikembangkan amat hidup dengan iringan obo yang sesuai.

Bagian kedua dimainkan dengan suasana lebih Melankolis, seolah-olah mengubah permainan emotif, diwakilkan oleh virtuoso obo yang dikelilingi drones (dengungan) dari bagian gesek. Karya ini berakhir secara simetris seperti pembukaannya-bagian gesek ”berbaris” dengan sisipan melodi obo, yak berakhir dengan permainan selo yang menurun secara perlahan. (taofik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here