PHRI Jabar Dukung Pariwisata Jadi Lokomotif Ekonomi

JELAJAH NUSA – Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Jawa Barat kini telah memasuki usia 50 tahun. Usia yang sudah sangat matang dalam sebuah organisasi. Ketua DPD PHRI Jawa Barat Herman Muchtar mengatakan, dengan kekompakkan segenap pengurus dan pemerintah dengan baik, PHRI Jabar sudah bisa menata sarana dan prasarana untuk menunjang pariwisata.

Menurut dia, Gubernur Jawa Barat saat ini memiliki cita-cita yang sangat baik yakni menjadikan pariwisata sebagai lokomotif ekonomi Jabar. PHRI, kata dia, selalu mendukung program pemerintah untuk mengembangkan pariwisata.

”Infrastruktur di Jawa Barat sudah sangat mendukung. Tinggal kita bagaimana kita menghasilkan SDM. Saya melihat gubernur sangat menggebu-gebu dalam mengembangkan pariwisata. Kita, Kadin, asosiasi dengan stakeholder lain harus bisa mengimbangi,” ujar Herman saat Malam Puncak HUT ke-50 PHRI tingkat Jawa Barat di Hotel Grand Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Minggu (24/2/2019).

Pemerintah disarakankan tidak hanya fokus pada peningkatakan wisatawan mancanegara (wisman), tetapi wisatawan nusantara (wisnus) pun merupakan peluang yang sangat besar. Menurut catatan, wisnus Jabar tahun lalu baru mencapai 54 juta. Padahal potensi wisnus sangat besar bisa mencapai sekitar 70 juta.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini beberapa masalah yang dihadapi oleh anggota PHRI adalah kenaikan tiket pesawat. Sehingga, ini akan berdampak pada perjalanan para wisatawan.

”Pada saat Rakernas kemarin, kenaikan tiket pesawat sangat berpengaruh pada okupansi hotel. Dimana beban hotel saat ini sudah sangat berat. Banyak hotel yang akhirnya diubah menjadi tempat kost. Untuk itu, mari kita duduk bersama antara PHRI, wali kota dan bupati seluruh jabar. Karena bagimana pun juga, hotel dan tempat hiburan masih menjadi penyumbang PAD tertinggi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua DPP PHRI Haryadi Sukamdani mengatakan, pemerintah sungguh-sungguh mendorong pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Pada malam puncak PHRI di Jakarta, pihaknya memberikan penghargaan kepada Presiden Joko Widodo sebagai Bapak Pariwisata Nasional.

”Penghargaan ini mengandung suatu apresiasi. Tentunya ini harus dilanjutkan bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga daerah. Seperti di Jabar, di mana gubernur memberi prioritas agar pariwisata maju,” ucapnya.

Sebenarnya, Jawa Barat memiliki banyak potensi untuk memajukan pariwisata khususnya sektor dan restoran. Di Jabar telah memiliki airport Kertajati. Jabar juga beruntung karena nanti memiliki Pelabuhan Patimban yang akan lebih besar dari Pelabuhan Tanjung Priuk. Jabar juga dilalui 16 jalan tol yang menguhubungkan semua daerah.

Selain itu, Jabar juga merupakan provinsi yang eksportnya terbesar di Indonesia, pasar lokal terbesar juga di Indonesia. ”Jadi kalau PHRI sampai tak maju, berarti PR kita semua untuk lebih maju lagi,” tegasnya.

Potensi-potensi yang dimiliki Jabar ini lebih besar dari provinsi lain. Tinggal melihat kesungguhan kita semua agar membuat hal itu lebih baik. Seperti bandara Kertajati yang belum optimal, menjadi PR kita semua. Jangan sampai investasi infrastruktur yang begitu besar tidak kita optimalkan. Begitupun jalan tol yang sudah banyak tidak kita buka untuk pariwisata.

Sekda Jabar Iwa Karniwa mengatakan, perkembangan pariwisata bisa dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan sebaik baiknya. Dengan demikian, bisa menarik wisatawan baik mancanegara maupun lokal untuk datang ke daerahnya.

”Pada 2017, kunjungan wisatawan ke Jabar adalah sebanyak 64.628.105 orang. Terdiri dari 59 juta lebih wisatwan domestik dan 4 juta lebih wisatawan mancanegara. Dengan total 19 juta lebih atau sekitar 30 persen wisatawan menggunakan jasa akomodasi yang ada di Jabar,” ucap Iwa.

Berkat hal ini, kata Iwa, penyedia makanan dan minuman memberi kontribusi 2,1 persen dari 5 persen pertumbuhana ekonomi di Jabar.

Jumlah wisatawan yang cukup besar yang menjadi efek domino tentunya merupakan hasil kolaborasi yang selama ini terbentuk pemerintah dan pelaku bisnis di bidang perhotelan dan restoran.

Dia melanjutkan, berdassarkan lembaga sertifikasi LSU Karsa Bhakti Persada, hotel yang tersertifikasi standarisasi adalah sebanyak 125 hotel dari 535 hotel berbintang yang ada terdiri dari bintang 3,4,dan 5 yang berlaku selama tiga tahun. Setelah itu, perlu disertivikasi kembali.

”Dengan kata lain, baru 23 persen hotel berbintang di Jabar yang sudah tersertivikasi. Jumlah ini belum termasuk hotel non bintang sebanyak 1.312 hotel. Untuk itu, saya mengajak kepada anggota PHRI jabar untuk sama-sama meningkatkan standarisasi mutu, produk dan jasa layanan kepada konsumen,” ucap Iwa. (taofik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here