Mengunjungi Museum Sri Baduga, Berkomunikasi Dengan Masa Lampau

Penulis: Sisca Via

Bangunan megah itu menyambut saya ketika kaki baru saja menginjak halamannya yang luas. Gedung bekas Kawedanan Tegallega itu telah dipugar menjadi sebuah museum. Museum Sri Baduga namanya. Tahun 1974 gedung pemerintahan tersebut dipugar dengan memadupadankan bangunan tradisional Sunda dengan gaya arsitektur modern. Halaman parkirnya sangat luas hingga bisa menampung berpuluh-puluh bus pariwisata.

Pemerintah kota Bandung, mempersembahkan Museum Sri Baduga ini untuk masyarakat Jawa Barat khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya agar kita dapat ‘berkomunikasi’ dengan masa lalu. Nama Sri Baduga sendiri berasal dari nama gelar raja Pajajaran yang memerintah tahun 1482-1521 Masehi.

Museum ini menjadi rujukan bagi pelajar jika mendapat tugas dari sekolah untuk menuliskan sejarah Jawa Barat secara lengkap. Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 14.00. Pengunjung bisa datang pada hari Senin, tapi dengan perjanjian sebelumnya. Tiket masuk adalah Rp.5000. Sangat murah jika dibandingkan dengan pengetahuan yang akan kita dapat dari museum ini.

Lantas apa saja sih yang ada di dalam museum? Ayo, ikuti perjalanan saya!

Museum dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sayap kiri, tengah dan sayap kanan. Saya sudah tidak sabar untuk memulai tur saya kali ini. Saya membeli tiket terlebih dahulu. Setelah mendapatkan tiket masuk, saya mulai menginjak bagian tengah Museum yang tak banyak ‘basa-basi’, hanya ada ruang informasi dan sofa seperti layaknya sebuah ruang tamu. Sebelum ‘diijinkan’ melihat-lihat koleksi, saya ‘diseret’ bapak petugas untuk mengisi buku tamu. Sepagi ini, sekitar jam 10.00, buku tamu yang terisi sudah banyak, menandakan jika yang datang sebelum saya juga banyak sekali. Benar, ada anak-anak SD berseliweran di depan saya dan terdengar suara riuh rendah menggema dari anak-anak dibagian-bagian lain museum . Rupanya mereka adalah pelajar yang sedang melakukan tur untuk tugas pelajaran Sejarah mereka.

Suasana museum sangat nyaman dan sejuk, padahal saya tidak melihat ada AC terpasang disini. Bagian tengah museum ini berbentuk setengah lingkaran. Saya memulai ‘perjalanan’ saya dari arah kiri kemudian ke kanan, searah jarum jam. Lantai satu yang merupakan bagian tengah museum ini menggambarkan sejarah Jawa Barat dimasa jutaan tahun yang lalu. Mulai dari terbentuknya kota Bandung yang dulunya merupakan danau purba yang kemudian mengering (asal muasal legenda Sangkuriang yang terkenal itu), ada naskah-naskah kuno (babad) dari Kerajaan Pajajaran, ada prasasti (meskipun hanya replikanya saja), diantaranya prasasti Ciaruteun yang menggambarkan dua telapak kaki raja. Prasasti itu merupakan bukti hadirnya Kerajaan Tarumanagara ( abad 5 M) dan awal mula diperkenalkannya budaya tulis.

Selain naskah kuno dan prasasti, di bagian tengah museum ini menyajikan hal-hal unik yang ditemukan di Jawa Barat pada masa purba, sebagai bukti bahwa di daerah Jawa Barat juga telah ditinggali manusia sejak berjuta tahun lalu. Disini, dipajang beberapa artefak kuno baik asli maupun replikanya, kemudian ada fosil-fosil manusia purba juga arca-arca para nenek moyang. Di salah satu bagian, di depan arca nenek moyang, ada sebuah situs yang merupakan replika makam orang-orang purba beserta tulang belulang yang berserakan. Melihatnya saja cukup membuat bulu kuduk merinding. Untung saja ini siang hari. Saya tidak bisa membayangan jika malam-malam berkunjung kesini. Pasti lumayan seram, hehe.

Yang menarik lagi dari bagian tengah ini adalah terdapatnya gua raksasa buatan yang besar, yang cukup memberi gambaran pada kita yang hidup dimasa kini, jika manusia purba tinggal di gua-gua seperti itu. Inilah the hot location bagi para pengunjung untuk berfoto, termasuk saya 😀

Perjalanan saya lanjut dengan menaiki tangga ke lantai dua, yang merupakan sayap kanan gedung museum. Di lantai ini, pengunjung akan di ‘ceritakan’ tentang kehidupan sosial dan tatanan masyarakat Jawa Barat. Lantai dua banyak bercerita tentang unsur-unsur kelompok kebudayaan. Mulai dari agama-agama yang pernah masuk ke Jawa Barat diantaranya Kong Hu Chu, Buddha, Hindu, Islam dan Kristen, kemudian tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan bahasa, hingga dipamerkannya koleksi alat-alat penunjang kehidupan masyarakat. Dilantai ini kita bisa melihat alat lisung dan halu, yaitu alat untuk menumbuk padi, alat untuk membajak sawah tradisional, bubu atau alat untuk menangkap ikan di jaman baheula 😀

Ruang pamer lantai dua, banyak menyajikan koleksi patung-patung manusia. Ketika baru menginjakkan kaki di lantai ini, terdengar suara orang mengaji. Saya tentu saja kaget. Ternyata, suara orang mengaji itu berasal dari salah satu patung perempuan yang sedang duduk di ‘teras’. Teras itu adalah replika bangunan khas Cirebonan, masa berkembangnya agama Islam disana. Duh, lumayan kaget juga. Ketika itu, saya memang sedang sendirian di ruangan besar itu. Maka, saya melakukan tur secara cepat saja.

Disini juga ditampilkan rumah-rumah adat Jawa Barat dan perkembangannya, kemudian ada beberapa koleksi mebel-mebel kuno jaman penjajahan Belanda, juga patung-patung yang mengenakan baju penganten adat Cirebonan, Sumedang, dan lain-lain.

Selesai di lantai dua, saya segera menuju ke lantai tiga. Disini, ditampilkan koleksi yang mengandung unsur teknologi, pojok sejarah perjuangan bangsa, pojok wawasan Nusantara dan Bandoeng Tempo Doeloe. Kita akan ditunjukkan bagaimana jaman dulu orang-orang membuat kerajinan. Pande, yaitu pengrajin, mulai dari pengrajin emas, pandai besi, membatik, dan lain-lain. Tak hanya itu, di ujung ruangan museum, terdapat pojok kesenian Jawa Barat. Berpuluh-puluh wayang golek dari berbagai macam karakter ada disitu. Sayangnya, wayang-wayang itu di tempatkan di ruangan berkaca sehingga saya tidak bisa menyentuhnya. Padahal gemas sekali melihat wayang-wayang itu. Disebelahnya dipamerkan sejumlah kenong, gong, dan alat-alat gamelan lain. Meski alat-alat gamelan itu tidak dilindungi kaca seperti yang lain, tetap saya saya tidak bisa memainkan alat-alat itu karena dilarang menyentuhnya.

Saya sarankan, Anda harus mengunjungi museum ini, agar kita kenal lebih dekat lagi budaya nenek moyang bangsa. Akses jalan menuju Museum ini cukup mudah karena relatif dekat dengan terminal Leuwipanjang, terminal yang merupakan akses masuk Bandung dari arah barat (Jakarta) dengan kendaraan umum. Apabila Anda berkendaraan pribadi, dari arah Jakarta lewat Tol Cipularang, Anda bisa keluar di pintu tol Moh Toha, kemudian belok kiri, menuju ke arah jalan Moh Toha. Lurus saja, sampai ketemu gedung PT Inti di perempatan jalan M Toha, lalu Anda belok ke kiri ke jalan BKR. Museum tidak jauh dari perempatan itu. Jika Anda dari pusat kota Bandung, Anda bisa terlebih dulu menemukan jalan Pelajar pejuang, lurus saja ke arah barat dan akan ketemu jalan BKR. Karena lokasinya di sekitar Jalan M Toha dan Jalan BKR yang notabene merupakan salah satu jalan terpadat di Kota Bandung, kita perlu bersabar untuk dapat mencapai lokasi museum. Macetnya bukan main 😀

Sedangkan angkutan umum yang melintasi depan museum terbilang cukup banyak. Sebab, letak museum yang strategis, yaitu tepat disamping lapangan Tegallega atau terkenal juga dengan lapangan Monumen Bandung Lautan Api, membuat banyak akses kendaraan umum. Anda tinggal naik angkutan yang memang jurusannya menuju ke Tegallega.

Jika Anda ingin tinggal lebih lama di Bandung seusai mengunjungi museum, Anda tinggal mencari hotel terdekat dari lokasi. Ada Hotel Bali Indah, yang letaknya di Jl. BKR no 75 Bandung. Atau, Anda bisa mampir ke Hotel Grand Pasundan di Jl. Peta no 147 – 149 (Lingkar Selatan), Bandung.

Informasi untuk Museum Sri Baduga Bandung.

Museum Sri Baduga

Jl. BKR no 185 Bandung

Phone (022)5210976 Fax (02) 523214

Email: sribaduga_museum@yahoo.co.id

Web: www.sribadugamuseum.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here