Friday , November 16 2018
Home / Destinasi / Eco Beach Tent, Cara Baru Berwisata Nomadic Di Belitung

Eco Beach Tent, Cara Baru Berwisata Nomadic Di Belitung

Eco Beach Tent di Tanjung Kelayang, Bangka Belitung ini mengusung konsep menginap di sebuah tenda di kawasan yang sangat alami, namun dengan fasilitas seperti hotel berbintang. Foto:IG

JELAJAH NUSA – Kerja keras Kementerian Pariwisata memperkenal konsep wisata nomadic membuahkan hasil. Gagasan yang dicetuskan Menteri Pariwisata Arief Yahya sejak Maret 2018 itu mulai berkembang dan salah satunya dengan didirikannya Eco Beach Tent di Tanjung Kelayang, Bangka Belitung.

Tempat ini mengusung konsep menginap di sebuah tenda di kawasan yang sangat alami, namun dengan fasilitas seperti hotel berbintang.

Glamping (glamour camping) kini menjadi tren berlibur gaya baru di seluruh dunia. Banyak wisatawan ingin mendapatkan pengalaman menyatu dengan alam tapi tetap mendapatkan layanan akomodasi layaknya di hotel berbintang seperti Eco Beach Tent ini,” ujar Arief, dalam keterangan tertulis, Selasa (30/10).

Arief yang mengunjungi Eco Beach Tent, pada Senin lalu dibuat kagum dengan konsep yang ditawarkan Eco Beach Tent. Wisatawan diajak merasakan hidup dengan konsep hijau serta diberikan pengalaman kegiatan-kegiatan masyarakat setempat.

“Ini berbeda jika kita membangun hotel. Ketika kita sudah membangun hotel di suatu destinasi wisata tertentu dan ternyata destinasi itu sepi, maka otomatis hotelnya ikutan sepi. Karena untuk membangun hotel dibutuhkan banyak pertimbangan dan feasibility study yang memakan waktu,” kata Arief.

Eco Beach Tent didirikan di area 6 hektare di Tanjung Kelayang. Tendanya merupakan buatan tangan dengan estetika wabi-sabi. Tenda-tenda dirancang, dibuat, dan dibangun dengan hati-hati oleh tukang kayu lokal dan elemen alam seperti nipah sawit atau daun kelapa.

“Filosofi desain terpusat pada estetika wabi-sabi. Sebagian besar daerah ditinggalkan dengan kekasaran dan kesederhanaan materi untuk menghargai ketidaksempurnaannya. Semua tenda memiliki teras pedesaan dengan pemandangan yang menakjubkan lautan tak terbatas,” terang General Manager Eco Beach Tent Ria Indra.

Setiap tenda Eco Beach Tent dapat menampung hingga 3 orang dengan sebuah tempat tidur tambahan. Lantai kayu yang tidak rata di kamar mandi menjadi fitur seperti terapi yang sehat untuk kaki.

“Eco Beach Tent dikembangkan dengan mempertimbangkan masa depan dengan meminimalkan dampak lingkungan. Sustainable dan sadar lingkungan adalah prinsip utama dari pengembangan Eco Beach Tent,” ujar Ria.

Tenda Eco Beach mencakup penggunaan bahan bangunan hijau. Beberapa perabotan dibuat dari limbah kayu konstruksi.

Sumber mata air yang sehat diambil dari sumber terdekat. Untuk air panas, prosesnya menggunakan sabut atau serat kelapa dari pasar dikumpulkan sebagai alternatif untuk gas atau listrik untuk memanaskan air.

Pengalaman menariknya, tamu bisa ikut memasak makanan yang akan dimakan. Dari mulai proses mengumpulkan bahan-bahan seperti yang baru memanen sayuran segar dari kebun organik, atau ikan lokal yang ditangkap setiap hari dengan cara tradisional.

Kegiatan lainnya ada olahraga air, petualangan darat, eksplorasi budaya, atau bersantai di pulau pribadi. Wisatawan juga bisa menemukan varietas satwa liar atau memancing di pantai Tanjung Kelayang.

Bahkan, Eco Beach Tent memberikan pengalaman mengarungi Pulau Kelayang atau mengagumi pemandangan yang indah Belitung di puncak Batu Baginda.

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Pariswisata bidang Nomadic Tourism Waizly Darwin mengatakan tren amenitas di tingkat global beralih ke amenitas berbasis pengalaman.

Nomadic tourism ini membangun hotel berbintang dengan cara cepat dan modal bersahabat untuk menjawab tantangan zaman now. Bila investor membangun hotel konvensional, selain modalnya harus besar, proses pembangunannya juga lama,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa saat ini dalam membangun ‘hotel berbintang’ cukup dengan modal investasi sebesar Rp70 juta per kamar. Kamar ini bisa didirikan di daerah-daerah yang memiliki tempat wisata. Kamar hotel juga bisa dipindah bila lokasi dianggap kurang prospektif di kemudian hari.

Backpacker zaman now banyak yang menjadi nomadic travelers. Di antaranya GlampackerLuxpacker, dan Flashpacker. Jumlah mereka mencapai 39,7 juta orang di dunia. Indonesia merupakan destinasi pilihan kaum nomad,” papar Waizly.

(adh)

Check Also

Ini Moment Tepat Owner Hotel Ikut Anugerah PHRI 2018

JELAJAH NUSA – Pemerintahan telah mencanangkan bahwa industri pariwisata diproyeksikan menjadi lokomotif ungulan penggerak ekonomi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

bankbjb.co.id