Torehkan Hasil Positif di Kuartal I 2019, CIMB Niaga Syariah Masuk Lima Besar Bank Syariah di Indonesia

kiri-kanan: Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean, Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara dan Regional Head Jawa Barat CIMB Niaga Andiko Manik berbincang usai Diskusi Bersama CIMB Niaga di Hotel Papandayan, Selasa (21/5/2019).

Jelajahnusa.com, BANDUNG – Di tengah perlambatan ekonomi nasional, Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga Syariah) mencatatkan kinerja positif sepanjang kuartal pertama tahun 2019. Hal itu tercermin dari meningkatnya jumlah pembiayaan, dana pihak ketiga (DPK), laba sebelum pajak, dan aset sehingga menempatkan CIMB Niaga Syariah sebagai bank Syariah terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan, konsistensi CIMB Niaga Syariah meraih hasil yang menggembirakan tak lepas dari strategi yang dijalankan selama ini. ”Salah satunya penerapan dual banking leverage model (DBLM) sehingga kami dapat memaksimalkan berbagai keunggulan yang dimiliki bank induk, mulai dari jaringan layanan, produk, maupun keahlian,” kata Pandji pada Diskusi Bersama CIMB Niaga di Bandung, Selasa (21/5/2019).

Pandji merinci, per 31 Maret 2019, pembiayaan meningkat sebesar 61,1 persen Year-on-Year (YoY) menjadi Rp28,04 triliun. Hasil ini antara lain dikontribusikan oleh pembiayaan Syariah untuk proyek-proyek berskala besar di bidang infrastruktur yang sedang dikembangkan Pemerintah dan pembiayaan perumahan atau KPR iB.

Dari sisi penghimpunan DPK, CIMB Niaga Syariah berhasil tumbuh 51,0 persen YoY menjadi Rp26,52 triliun. Dengan raihan tersebut, CIMB Niaga Syariah mampu membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp236,52 miliar, naik 54,1 persen dari periode yang sama tahun lalu.

”Kami bersyukur, pencapaian tersebut berkontribusi pada peningkatan aset menjadi Rp35,15 triliun, naik signifikan sebesar 57,3 persen YoY. Kami meyakini dengan dukungan penuh bank induk dan regulasi yang kondusif dari pemerintah, CIMB Niaga Syariah akan semakin besar dan menjadi salah satu kontributor terhadap perkembangan industri Syariah di Tanah Air,” tutur Pandji.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara.

Terkait strategi ke depan, Pandji menegaskan akan terus melakukan inovasi baik pada produk maupun layanan agar dapat menjadi bank Syariah pilihan masyarakat dari berbagai segmen. Dari sisi produk misalnya, Unit Usaha Syariah Bank BUKU IV ini memiliki produk yang lengkap baik pada segmen konsumer maupun korporasi.

Pada segmen konsumer, CIMB Niaga Syariah menawarkan produk unggulan seperti Tabungan iB Pahala, Syariah Card (Gold dan Platinum), dan KPR iB. Adapun untuk segmen korporasi, nasabah dapat memanfaatkan produk  Mudharabah Muqayyadah, iB Modal Kerja dan Investasi, serta produk pendukung usaha lainnya.

”Kami optimis mampu memanfaatkan berbagai peluang untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis. Kami juga terus berupaya untuk meningkatkan pengalaman nasabah dengan menawarkan berbagai produk dan layanan yang komprehensif termasuk terus mengembangkan produk-produk berbasis digital,” kata Pandji.

Dalam kesempatan yang sama, Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean mengatakan,pertumbuhan yang dicatatkan CIMB Niaga Syariah tersebut, menjadi bukti bahwa di tengah kondisi perekonomian yang masih menantang, pelaku usaha yang menerapkan strategi bisnis dengan tepat, tetap mampu meraih hasil yang positif. Di sisi lain, pemerintah tetap perlu memberikan dukungan dengan menyediakan iklim usaha yang kondusif.

kiri-kanan: Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean, Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara dan Regional Head Jawa Barat CIMB Niaga Andiko Manik menjadi narasumber Diskusi Bersama CIMB Niaga di Hotel Papandayan, Selasa (21/5/2019).

Menurut Adrian, kondisi perekonomian nasional dalam enam bulan ke depan masih akan terus diwarnai volatilitas di pasar finansial. Volatilitas terjadi karena cenderung liar-nya pergerakan pasar global  di tengah masih rentannya struktur pembiayaan pembangunan di dalam negeri. Pada saat yang sama, investasi juga diprediksi akan menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari kuartal I/2019 menjadi 5 persen.

”Kami memprediksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 secara keseluruhan hanya akan berada di kisaran 5 persen. Belanja konsumsi rumah tangga yang cenderung stabil dan belanja rutin pemerintah yang naik cukup besar kami perkirakan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi, tapi faktor eksternal akan menjadi rem pertumbuhan,” katanya.

Dengan kondisi perekonomian yang masih cukup menantang tersebut, lanjut Adrian, pemerintah perlu mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi yang agresif dan struktural agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat. Ia mengapresiasi langkah pemerintah lima tahun terakhir yang telah melakukan upgrade dalam aspek hardware dari infrastruktur seperti membangun jalan tol, jembatan, fasilitas irigasi, bandara, pelabuhan, jaringan layanan kereta, layanan sosial, serta komunikasi. Sehingga akses, konektivitas, dan mobilitas barang dan penduduk berpotensi menjadi lebih tinggi.

”Setelah lima tahun terakhir pemerintah berfokus pada upaya penyediaan infrastructure hardware, maka saat ini pasar dan pelaku bisnis berharap akan diluncurkannya upgrade dalam infrastructure software di lima tahun berikutnya. Khususnya pada tiga sasaran yang menjadi katalis terpenting dalam proses pembangunan, yaitu perbaikan iklim usaha, mobilisasi tabungan dalam negeri, dan re-industrialisasi sektor manufaktur Indonesia,” ujar Adrian. (taofik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here