STIE Ekuitas Gelar Webinar Diikuti 400 Peserta dari Berbagai Perguruan Tinggi

Tampilan Layar Webinar "Upaya Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Covid-19" pada Aplikasi Zoom.

Jelajahnusa.com, BANDUNG – Di Tengah Pandemi Covid-19, perguruan tinggi diuji oleh krisis kepercayaan. Perguruan Tinggi harus mempertahankan diri sebagai lembaga yang tetap dipercaya oleh masyarakat dan pemerintah. Hal tersebut diungkapkan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Uman Suherman, AS., M.Pd dalam Seminar Online atau Webinar ”Upaya Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Covid-19” yang digelar oleh Pusat Kerjasama Internasional Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ekuitas, Rabu (15/4/2020).

Prof. Uman mengatakan, segala aktivitas pembelajaran masih bisa dilakukan daring. Perguruan tinggi tetap bisa memberikan pelayanan pokok yakni pembelajaran dan pelayanan individu. Menurut dia, layanan individu salah satunya, memenuhi hak mahasiswa mendapatkan ijazah ketika lulus. Perguruan tinggi tidak boleh menunda hal-hal pokok seperti yudisium. Namun, prosesi wisuda bisa ditunda jika suasana sudah kembali normal.

”Ada hal-hal yang tidak boleh ditunda oleh perguruan tinggi, seperti bimbingan dan yudisium. Perguruan tinggi juga tidak boleh menunda pemberian ijazah kepada mahasiswa. Jika harus diberikan ya berikan saja. Karena kasihan juga kan kalau misalnya mahasiswa membutuhkan ijazah untuk keperluan melamar pekerjaan,” ungkap Prof. Uman.

Dia menambahkan, yang terpenting saat ini, perguruan tinggi dituntut hadir memberikan sumbangsih pemikirannya kepada dunia tentang bagaimana menyelematkan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar dari dampak wabah corona. Menurut dia, memberikan sumbangan berupa kuota internet, sembako ataupun uang memang baik. Namun, perguruan tinggi harus bisa menjadi pembeda dengan instansi lain.

”Saya apresiasi kepada STIE Ekuitas yang sudah membantu mahasiswa agar bisa bertahan di rumah kontrakan atau kost. Tapi kita sebagai insan pendidikan, dosen dan mahasiswa harus tampil dengan pemikiran-pemikiran memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana memutus mata rantai covid-19,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua STIE Ekuitas Prof. Dr. rer. nat. Martha Fani Cahyandito, SE., MSc., CSP mengatakan, pihak kampus tetap menjalankan aktivitas pembelajaran secara daring. Untuk seminar online, STIE Ekuitas juga telah sukses menghimpun 400 peserta dari berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia.

”Webinar kali ini saya rasa sangat luar biasa. Di mana, dalam kondisi normal kita susah mengumpulkan peserta se-Indonesia untuk seminar face-to face. Pandemi ini saya rasa bukan alasan bagi kita untuk tidak melakukan apa-apa. Buktinya, saat kita mengumumkan akan menggelar webinar, baru satu-sampai dua hari saja jumlah pendaftar langsung banyak. Jika tidak dibatasi, mungkin bisa saja lebih dari 400 peserta,” ungkap Prof. Fani.

Ketua Pusat Kerja Sama Internasional STIE Ekuitas Dr. Erlynda Y. Kasim., MSi.Ak mengaku bangga terhadap antusias para peserta Webinar. Menurut dia, dengan kecanggihan teknologi saat ini, bisa menyelenggarakan seminar tanpa kendala. ”Panitia sudah mempersiapkan matang. Bahkan kita selalu diskusi 24 jam. Kita latihan bagaimana menggunakan aplikasi Zoom ini. Alhamdulillah, selama acara berlangsung, kami tidak menemui kendala apapun. Kalau boleh dibilang, kita yang pertama kali menggelar webinar dengan 400 partisipan dari seluruh Indonesia,” ucapnya. (taofik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here