Poltekpar Palembang Kenalkan Kuliner Palembang di KBRI Austria

Delegasi Poltekpar Palembang diterima disambut oleh Duta Besar RI untuk Austria, Dr. Darmansjah Djumala pada kegiatan Indonesia and Culinary Festival di Vienna Austria, Sabtu (15//5/2019).

Jelajahnusa.com, AUSTRIA – Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Palembang menyajikan kuliner khas Sumatera Selatan, seperti Pindang dan Pempek di KBRI Vienna Austria, dalam kegiatan Indonesian Tourism & Culinary Festival.

Kegiatan yang berlangsung selama hari itu, 17-21 Mei 2019, menjadi momentum memperkenalkan masakan khas Indonesia khususnya Sumatera Selatan kepada tamu undangan di negara yang terletak di Eropa Tengah tersebut.

”Kita diundang Duta Besar Indonesia untuk Austria bersama William Wongso untuk mendukung kegiatan ini. Mendemokan masakan dan menyajikannya ke tamu undangan,” kata Direktur Poltekpar Palembang Zulkifli Harahap dalam siaran per yang diterima Jelajah Nusa.

Zulkifli mengatakan, pihaknya menyertakan mahasiswa Progam Studi (Prodi) Seni Kuliner sebagai representatif Poltekpar Palembang yang menjadi perguruan tinggi vokasi bidang kepariwisataan.

Mahasiswa Prodi Seni Kuliner Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Palembang, Zulfakar melakukan demo masak di depan tamu undangan pada Indonesian Tourism & Culinary Festival di KBRI Vienna Austria, Minggu (16/5/2019)

”Kita punya empat prodi; Divisi Kamar, Tata Hidang, Pengelolaan Konvensi dan Acara serta Seni Kuliner. Karena kegiatan ini berkaitan erat dengan prodi terakhir, makanya kita ajak mahasiswa dan dosennya sebagai bahan pembelajaran,” ungkapnya.

Menteri Pariwisata, Ir. Arief Yahya menjelaskan, keikutsertaan Perguruan Tinggi Pariwisata atau PTP di bawah Kementerian Pariwisata dalam kegiatan internasional menjadi satu di antara banyak cara untuk menjadi pemain di kancah dunia.

”Kenapa kita harus habis-habisan meningkatkan kualitas SDM pariwisata hingga berkelas dunia? Saya selalu mengingatkan bahwa kalau ingin menjadi global player, maka kita harus menggunakan global standard. SDM kita harus berstandar global. Sekolah pariwisata kita harus berstandar global,” jelasnya.

Menurut Arief, kita harus menyadari bahwa di era pasar bebas, flow of people, akan begitu mudah dan cepat. Suka atau tidak suka Indonesia akan ’diserang’ atau menyerang negara lain dalam percaturan global war of talent. Kalau kita punya SDM pariwisata mumpuni maka kita akan ”menyerang” dengan mengekspor talent ke negara lain.

”Sebaliknya, jika SDM pariwisata buruk, maka kita akan ’diserang’ oleh SDM terampil nan murah dari negera lain. Mereka akan membanjiri pasar tenaga kerja Indonesia. Keikutsertaan PTP di kancah global bisa menjadi pembelajaran yang baik,” terangnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here