Tingkatkan Wawasan Spiritualitas Mahasiswa, STP Bandung Gelar Kuliah Ramadan dan Kerohanian

Pembukaan Kuliah Ramadan dan Kerohanian di Gedung mandalawangi lantai 2 STP Bandung, Jumat (10/5/2019).

Jelajahnusa.com, BANDUNG – Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung menggelar Kuliah Ramadan dan Kerohanian selama tiga hari dua malam, 10-12 Mei 2019. Ketua Panitia Kuliah Ramadan dan Kerohanian Andar Danova L. Goeltom mengatakan, pelaksanaan Kegiatan Kuliah Ramadan dan Kerohanian merupakan kegiatan Ko-Kurikuler yang pertama kali diadakan di STP Bandung. Ide Ketua STP Bandung mengusulkan kegiatan spiritual ini pada saat Bulan Ramadan merupakan langkah cerdas untuk menguatkan empat prinsip pembentukan manusia paripurna melalui olah ruh, olah raga, olah rasa dan olah rasio.

”Melalui kegiatan olah ruh ini, mahasiswa diharapkan mendapat pelajaran dan pembinaan keagamaan yang sangat berharga untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, membentuk akhlak serta mengasah wawasan spiritualitas, sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan di masyarakat, khususnya di dalam kehidupan kampus. Dan yang tak kalah penting adalah untuk mempererat ukhuwah dan silaturhami mahasiswa dari berbagai agama di STP Bandung,” ujar Nova.

kiri-kanan : Ketua STP Bandung Faisal, Pembantu Ketua 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni STP Bandung ER Ummi Kalsum, serta Ketua Panitia Kuliah Ramadan dan Kerohanian STP Bandung Andar Danova L. Goeltom menabuh Rebana sebagai pembukaan Kuliah Ramadan dan Kerohanian STP Bandung.

Dia menambahkan, selama kegiatan Kuliah Ramadan dan Kerohanian berlangsung, mahasiswa diarahkan untuk melakukan seluruh aktivitas keagamaan di dalam kampus termasuk penyediaan tempat bermalam di dalam kampus s elama tiga hari dua malam. Kegiatan ini melibatkan seluruh unsur keagamaan yang terdiri dari Dewan Kemakmuran Masjid As Safir, Pembina Persekutuan Mahasiswa Kristen, Pembina Mahasiswa Katolik, Pembina Mahasiswa Hindu, Pembina Mahasiswa Budha dan para dosen tetap Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.

Kuliah Ramadan dan Kerohanian ini diwajibkan untuk seluruh mahasiswa semester 1 dan 2 yang berjumlah 636 orang dari 13  program studi. Rinciannya, yakni 446 mahasiswa Islam, 133 mahasiswa Kristen, 57 mahasiswa Katolik, 7 mahasiswa Budha dan 3 mahasiswa Hindu.

Para mahasiswa semester 1 dan 2 STP Bandung mengikuti pembukaan Kuliah Ramadan dan Kerohanian.

Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa beragama Islam di antaranya, rutinitas beribadah, qiyamul lail dan tahfidz, itikaf, qiullah, kajian dhuha, perbekalan tata cara berdakwah, pemutaran film islami, halal tourism, kajian muslimah, perlombaan seni Islami, bazaar Ramadan, olahraga dan diskusi.

Untuk kediatan mahasiswa Kristen di antaranya, kuliah umum bersama (pagi, siang dan sore), ibadah, pemutaran film kristen, doa dan saat teduh, mentoring, pujian dan penyembahan, olahraga, bazaar Kristiani, dan perlombaan. Sementara untuk kegiatan mahasiswa Katolik di antaranya, kuliah umum bersama, ice breaking, pemutaran film Katolik, ibadah Rosario, misa pagi, sharing season, api unggun dan rekreasi.

”Khusus untuk mahasiswa agama Budha dan Hindu kegiatan di luar kampus bersama pemuka dan lembaga agama masing-masing,” ungkap Nova.

Sementara itu, Ketua STP NHI Bandung Faisal mengatakan, Kegiatan Kuliah Ramadan dan Kerohanian sebagai upaya untuk memupuk spiritual. Menurutnya, spiritual merupakan unsur penting dalam proses menyiapkan daya saing SDM Periwisata. Oleh karena itu, kegiatan Kuliah Ramadan dan Kuliah Kerohanian bagian ikhtiar dalam pembentukan karakter dan pembinaan mahasiswa menjadi insan pariwisata yang berakhlak mulia (manner hospitality).

Ketua STP NHI Bandung Faisal (kedua kiri) saat memberikan sambutan dan pembekalan kepada mahasiswa.

”Pembentukan karakter dan pembinaan mahasiswa menjadi bagian dalam melahirkan great leader yang wajib menyeimbangkan spritual dan strategi melalui olah rasio, olah ruh, olah rasa, dan olah raga. Kuliah Ramadan dan Kerohanian merupakan olah ruh. Great leader bukan hanya memiliki style leadership dan strategi, namun tertinggi adalah spriritual share value (lead by heart and manage by head atau lead more and manage less),” ungkap Faisal.

Dirinya menambahkan, manusia sejatinya dilahirkan suci/fitrah/bersih, interaksi dengan pengaruh lingkungan, pengaruh keluarga, pengaruh pendidikan, membentuk karakater. Jika karakter dibentuk dan ditanamkan baik dan dibiasakan maka akan menjadi perilaku (akhlak).

”Spririt pribadi yang terbaik merupakan perwujudan dan spirit ikhsan melalui upaya perbaikan terus menerus (continue improvement). Spirit ikhsan mengandung esensi bahwa kita memiliki komitmen rohani, di mana saat beribadah mata hati kita melihat tuhan,” ungkapnya. (taofik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here