Empat Kiat Travel Agent Konvensional Bersaing dengan OTA

Dosen STP NHI Bandung Wientor Rahmada (tengah) dan Direktur Frontier Group Tommy Teguh Susetio (kanan) menjadi pembicara di Coffee Talk dalam Travel Mart 2019 di STP NHI Bandung, Kamis (25/4/2019).

Jelajahnusa.com, BANDUNG – Hari kedua Travel Mart 2019 Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung diisi dengan beberapa rangkain seperti Coffee Talk, Talkshow, pementasan Angklung, Pencak Silat dan Akustik. Sesi Coffee Talk yang digelar pada Kamis (25/4) pukul 10.50, mengusung tema ”Digital Transformation” dengan pembicara tuan rumah yakni Dosen STP NHI Bandung  Wientor Rahmada dan Direktur Frontier Group Tommy Teguh Susetio.

Menurut Wientor, saat ini para travel agent konvensional menghadapi gelombang besar persaingan usaha dengan online travel agent (OTA). Menurut dia, munculnya Traveloka dan OTA sejenisnya menggerus market travel agent konvensional.

”Poin penting dalam talkshow ini, saya ingin mengajarkan kepada para travel agent untuk bisa merubah maindset. Sebab, kondisi saat ini berbeda jauh dengan 10 atau 20 tahun ke belakang. Travel agent harus menyikapinya berbeda dengan 10 tahun lalu karena marketnya pun berbeda,” ujar Wientor kepada Jelajah Nusa.

Dia menurutkan, para travel agent setidaknya harus bisa survive dengan melakukan beberapa perubahan agar tidak tumbang. Namun, kendala yang dihadapi oleh para travel agent ialah teknologi. Sebab, teknologi biayanya sangat mahal. Travelola bisa leading karena memiliki modan besar. Selain itu, Traveloka memiliki departemen R&D yang membuat setiap saat bisa menciptakan perubahan produk.

Menurut dia, setidaknya ada empat langkah yang bisa dilakukan para travel agent konvensional untuk tetap bertahan.

Pertama, travel agent harus fokus pada program tour. Menurut dia. Dengan membuat program tour akan menghadilkan revenue besar. Travel agent harus tetap fokus pada pelayanan. Berbeda dengan OTA yang fokus pada teknologi serta penjualan tiket

”Sebab, saat ini penjualan tiket sudah dikuasai oleh Traveloka. Hampir 80 persen tiket pesawat dipegang Traveloka. Setidaknya, dengan fokus menggarap tour akan tetap bertahan,” ungkap Wientor.

Kedua, harus fokus menggarap milenial dengan membuat open trip. Menurutnya, milenial adalah pasar yang potensial. Saat ini, anak milenial dikatakan kaya jika di akun Instagramnya penuh dengan foto-foto travelling dengan destinasi memukau.

”Kalau jualan paket lima hari tujuh malam misalnya ke tiga negara Malaysia, Singapura dan Thailand saya rasa anak-anak milenial tidak tertarik. Tapi coba bikin Open trip ke Aurora atau Annapurna di Nepal. Bikin open trip yang spesifik. Saya yakin banyak anak milenial yang tertarik,” ungkap dia.

Ketiga, travel agent konvensional juga bisa garap haji dan umrah. Namun harus ada izin lagi karena izinnya berbeda. Haji dan umrah marketnya sudah jelas.

Keempat, fokus pada corporate group. Namun, lagi-lagi menurut dia, corporate juga sudah diambil oleh OTA. Travel agent konvensional harus bersaing ketat menjual program ke corporate. (taofik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here