Tuesday , September 26 2017
Home / Aktivitas / Ingin Jadi Sultan Duduk di Singgasana Istana Maimun

Ingin Jadi Sultan Duduk di Singgasana Istana Maimun

Istana Maimun Kesultanan Deli di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan, Kota Medan ini masih menjadi daya tarik wisatawan yang datang. Foto:adhi

JELAJAH NUSA – Jalan-jalan ke Kota Medan, Sumatera Utara belum lengkap kalau tidak singgah di istana ini. Ya, menyebut istana terindah di Indonesia, Istana Maimun-lah salah satunya. Arsitekturnya menawan dan penuh sejarah yang menarik.

Jelajah Nusa, Jumat (18/8/2019) lalu berkesempatan memasuki istana yang terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan.

Tak salah jika istana ini disebut satu dari sekian istana yang paling indah di Indonesia, jika merajuk pada arsitektur bangunan istananya. Istana Maimun memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan beberapa unsur kebudayaan Melayu bergaya Islam (Timur Tengah), Spanyol, India dan Italia.

Sekilas tentang sejarahnya, Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli. Didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli. Istana ini dibangun pada 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891.

Warna kuning yang mendominasi Istana Maimun melambangkan warna Melayu, sekaligus warna kebesaran Kerajaan Deli di Sumatera Utara. Sedangkan pengaruh Eropa terlihat dari ornamen lampu, kursi, meja, lemari, sampai pintu dorong. Satu lagi, bentuk pintu dan jendelanya lebar-lebar seperti mirip bangunan-bangunan di Eropa.

Pengaruh Islam bisa dilihat dari bentuk lengkung (arcade) di bagian atap yang bentuknya menyerupai perahu terbalik (lengkung persia) yang biasanya dijumpai pada bangunan-bangunan di kawasan Timur Tenggah. Sampai saat ini, Istana Maimun masih terawat dengan baik.

Bangunan Istana Maimun menghadap ke timur dimana terdiri dari dua lantai dengan tiga bagian yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 meter persegi dan 30 ruangan.

Salah satu ruang Istana Maimun yang sampai saat ini masih digunakan sultan untuk kegiatan adat. Foto:adhi

Dengan tiket masuk hanya Rp 5 ribu saja, kita bisa melihat-lihat peninggalan-peninggalan Kerajaan Deli serta singgasana rajanya. Benda-benda bersejarah di sini tak ternilai harganya.

Pengunjung bisa merasakan kursi yang pernah dipakai para Sultan. Masih tersimpan rapih dan diletakan di ruang paling belakang.

“Konon kalau ingin jadi Sultan, duduk dulu disitu,” kata pemandu wisata,Sari. Meski hanya berseloroh, bisa saja berkah menghampiri bagi setiap orang untuk bisa menjadi Sultan.

Yang menarik, ada bangunan kecil beratap ijuk di sisi kanan istana. Di sana tersimpan Meriam Puntung yang disebut juga meriam buntung dengan legenda penjelmaan putri yang cantik. Disebutkan, Meriam Puntung adalah penjelmaan dari adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua bernama Mambang Khayali nan cantik jelita.

Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam (19), kini menjabat sebagai Sultan Deli. Foto:adhi

Dia berubah menjadi meriam dalam mempertahankan istana dari serbuan Raja Aceh yang ditolak pinangannya oleh Putri Hijau. Akibat laras meriamnya yang terlalu panas karena menembak terus menerus, maka akhirnya meriam pecah menjadi dua bagian.

Ujung meriam yang merupakan bagian yang satu, melayang dan menurut dongeng jatuh di Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Tanah Karo. Sedangkan bagian yang lain disimpan pada bangunan kecil di sisi kanan Istana Maimun.

Meriam itu hanya satu dari segudang cerita yang ada di Istana Maimun. Terakhir sebelum pulang, jangan lupa untuk berfoto-foto dengan pakaian adat Melayu di dalam Istana Maimun. Cukup merogoh kocek Rp 10 ribu, kita bisa menyewanya dan berfoto-foto ala Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih. Asyik kan!

Sepanjang sejarah keberadaannya, Kerajaan Deli sudah terbentuk pada awal abad ke 17, dan pada pertengahan abad ke 20 memutuskan untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Walau telah bergabung dengan NKRI, hingga saat ini, Kesultanan Deli masih aktif, di mana Sultan bertindak sebagai kepala adat Melayu.

Kini, Sultan Deli dijabat oleh Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam yang masih berusia 19 tahun. Ia diangkat menjadi Sultan tahun 2005 saat berusia tujuh tahun menggantikan ayahnya Tuanku Otteman Mahmud Paderap Perkasa Alam.

Dua wanita muda setiap hari menjaga di depan pintu masuk Istana Maimun. Mereka melayani tamu yang ingin melihat-lihat istana Maimun. Foto:adhi

Tuanku Otteman Mahmud sendiri merupakan  Raja Deli ke 13 meninggal pada kecelakaan pesawat di Aceh tahun 2005 dalam usia 39 tahun. Ia adalah prajurit TNI menjabat Komandan Batalyon Siliwangi.

Sesuai adat maka kesultanan digantikan oleh anaknya Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam sebagai raja ke 14. Saat itu usianya baru tujuh tahun. Kini beliau berdomisili di Makassar, dan selalu datang apabila ada acara adat dan hari besar keagamaan.

Kesultanan Deli pada merupakan satu di antara kerajaan besar yang ada di Sumatera Utara. Nama Deli diambil dari sejarah Raja Deli pertama yaitu Tuanku Gotjah, ia adalah pahlawan dari keturunan Raja Delhi Akbar di Hindustan, India.

URUTAN NAMA RAJA DELI

– Tuanku Gotjah Pahlawan

– Tuanku Parunggit

– Tuanku Padrap

– Tuanku Pasutan

– Tuanku Gandar Wahid

– Tuanku Amaluddin Mangedar Alam

– Tuanku Osman Perkasa Alam

– Tuanku Mahmud Perkasa Alam

– Tuanku Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamshah

– Tuanku Amaluddin Sani Perkasa Alam

– Tuanku Osman Al Sani Perkasa Alam

– Tuanku Azmi Perkasa Alam

– Tuanku Otteman Mahmud Paderap Perkasa Alam

– Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam

(adh)

 

Check Also

Helic Diharapkan Bisa Mendorong Profesionalisme GM Hotel

JELAJAH NUSA – Ketersediaan Sumber daya manusia (SDM) perhotelan sejauh ini masih menjadi persoalan tersendiri, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bankbjb.co.id