Home / Aktivitas / Mengenal Sejarah di Museum Bale Panyawangan Diorama

Mengenal Sejarah di Museum Bale Panyawangan Diorama

Simulator sepeda onthel. (dok. Disporaparbud PWK)

JELAJAH NUSAMuseum Bale Panyawangan Diorama terletak di pusat kota Purwakarta yang berjarak sekitar 500 meter dari kantor bupati. Dari segi namanya, Museum Bale Panyawangan berarti ‘tempat untuk menerawang’. Di dalamnya menyajikan beragam literatur sejarah tentang Republik Indonesia pada umumnya, serta Purwakarta khususnya.

Penyajian koleksinya tidak sebatas tulisan, tapi juga berbentuk arsip dan seni, lantas dikemas dengan konten yang hampir semuanya serba digital. Ada video-video yang menampilkan cuplikan pidato para Presiden Republik Indonesia, foto-foto para bupati yang pernah menjabat di Purwakarta, buku digital yang menampilkan gambar bergerak disertai suara narasi berbeda-beda setiap kali kita membalik lembar. Selain itu, juga bisa berkeliling Purwakarta menggunakan sepeda onthel yang berbentuk simulator dan berfoto bersama Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi dalam bentuk virtual.

Kemudian ada teater kecil yang menjelaskan tentang sejarah kota yang dulunya bernama Sindang Kasih ini. Namun sebelum menikmati tontonan sejarah Purwakarta di teater, ada ritual unik yang mengharuskan kita bergoyang. Nama goyangannya adalah Goyang Maranggi, goyangan khas Purwakarta.

Diorama perjuangan rakyat (Dok. Disporaparbud PWK)

Dalam museum ini terdapat pula sembilan narasi besar sejarah yang digambarkan ke dalam sembilan bagian ruangan (bale) dalam museum, yaitu :

Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana, menyajikan Sejarah Tatar Sunda.

Bale Prabu Niskala Wastukancana, menampilkan sosok para pemimpin Purwakarta.

Bale Prabu Dewaniskala, menggambarkan Purwakarta pada masa pengaruh Mataram, VOC dan Hindia Belanda dalam rentang waktu tahun 1620-1799.

Bale Prabu Ningratwangi, menyajikan Purwakarta pada masa Hindia Belanda tahun 1800-1942.

Bale Prabu Jayaningrat, menampilkan gambaran Purwakarta pada masa pergerakan nasional dan masa pendudukan Jepang.

Bale Prabu Ratudewata, menyajikan keadaan Purwakarta pada masa kemerdekaan 1945-1950, dimulai dengan Peristiwa Rengasdengklok, dan pada jaman Demokrasi Liberal tahun 1950-1959.

Bale Prabu Nilakendra, menampilkan Purwakarta pada masa Demokrasi Terpimpin 1959-1967.

Bale Prabu Surawisesa, menyajikan Purwakarta pada masa pemerintahan 1968-1998, serta Era Reformasi 1998 hingga sekarang.

Bale Ki Pamanah Rasa, memberikan gambaran “Digjaya Purwakarta Istimewa” tahun 2008-2018.

Pemkab Purwakarta membangun Museum Bale Panyawangan Diorama sebagai pembuktian bahwa puing-puing sejarah Kabupaten Purwakarta mampu dikemas dalam bentuk yang futuristik, unik, menarik, dan pastinya bisa dinikmati khalayak ramai.

Museum Diorama beroperasi setiap hari tanpa dipungut biaya. Senin-Jumat dari pukul 09.00-15.00 WIB. Sedangkan Sabtu-Minggu dari pukul 09.00-13.00 WIB. (IG)***

 

 

Check Also

Mengenal Batik Tulis Yogyakarta

JELAJAH NUSA – Sejak dinobatkan sebagai kota batik dunia, batik tulis Yogyakarta telah berkembang pesat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bankbjb.co.id