Home / Aktivitas / Sensasi Sunrise dan Keeksotisan Bromo

Sensasi Sunrise dan Keeksotisan Bromo

Panorama Bromo yang eksotis. (Foto Irwan/JN)

JELAJAH NUSA – Takjub. Begitulah kesan pertama ketika menyaksikan berubahnya rona cakrawala dari gelap menuju terang alias sunrise. Panorama alam menjelang pagi hari itu benar-benar sungguh mengagumkan. Mentari perlahan muncul kekuning-kuningan di balik gunung dan awan, begitu indah! Di tanah air, salah satu tempat terbaik melihat sensasi sunrise adalah di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Destinasi ini masyhur bahkan hingga ke mancanegara.

Selain sensasi sunrise, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyajikan panorama sunset, lautan pasir, kawah Bromo, hingga hamparan rumput hijau atau savana. Daya tarik tersebut banyak menyedot perhatian para wisatawan dari berbagai belahan dunia. Di salah satu taman nasional terbaik di Indonesia ini, terdapat penduduk asli yakni masyarakat adat suku Tengger.

Di kawasan Gunung Bromo terdapat tempat yang representatif untuk melihat matahari terbit. Salah satunya di Penanjakan. Ya, di sini para pengunjung dapat mengamati dan menikmati dengan leluasa pesona sang raja siang muncul dari persembunyiannya. Melihat di ketinggian, seakan matahari berada di bawah pandangan mata.

Secara geografis Gunung Bromo berada di sekitar empat wilayah yakni Kabupaten Probolinggo, Malang, Lumajang dan Pasuruan. Salah satu akses transit yang mudah ditempuh adalah melalui Probolinggo yakni di Kecamatan Sukapura.

Kegiatan berkuda menjadi pilihan para wisatawan. (Foto Irwan/JN)

Di wilayah ini terdapat semacam terminal kendaraan-kendaraan jenis jip (hardtop) untuk mengantar para pengunjung hingga Penanjakan dan hamparan pasir di kaki Gunung Bromo. Biaya sewa shuttle car sekitar Rp 450 ribu per mobil pergi-pulang. Satu jip memuat enam hingga tujuh penumpang.

Untuk sampai di Penanjakan memang tidak cukup mudah. Butuh perjuangan dan persiapan ekstra karena dilakukan saat dini hari. Udara yang cukup dingin dan berkabut akan senantiasa menyelimuti perjalanan di tengah gelap malam. Lagi pula tak semua jenis transportasi yang mampu mengantar dan mencapai zona Penanjakan. Perjalanan yang dilalui berkelok-kelok, disertai tanjakan ekstrem dan turunan tajam yang cukup memacu adrenalin.

Perjalanan dari Sukapura hingga Penanjakan menghabiskan waktu tempuh antara satu hingga satu setengah jam. Para sopir jip yang mahir dan berpengalaman akan mengantar para pengunjung bertualang melintasi lautan pasir di kegelapan. Usai menghabiskan perjalanan dengan jip, maka untuk berada di Penanjakan harus berjalan kaki beberapa puluh meter menapaki sejumlah anak tangga yang lumayan landai.

Di sekitar area penghentian jip terdapat kedai-kedai yang menjajakan aneka makanan, minuman panas hingga suvenir. Para pengunjung atau wisatawan biasanya menyisihkan waktu, mampir sejenak untuk sekadar istirahat, menikmati segelas teh, kopi ataupun wedang jahe. Kedai-kedai ini juga menyediakan perapian dalam tungku untuk menghangatkan badan dan telapak tangan. Udara di wilayah ini terasa lebih menusuk tulang.

Lokasi Penanjakan memang tak terlalu luas. Seolah hendak menonton pertunjukan, ada semacam tribun yang dapat menampung ratusan pengunjung untuk menyaksikan pesona indah itu. Meski minim penerangan dan dengan balutan hawa dingin, menanti matahari terbit di Penanjakan memberi sensasi tersendiri. Di sini pula pengunjung dapat menikmati kabut menari di bawah penglihatan mata.

Wisatawan menanti sunrise. (Foto Irwan/JN)

Sekitar pukul 5 matahari akan terbit perlahan. Selama kurang lebih 15 menit atraksi keindahan sunrise yang memanjakan mata dapat dinikmati. Sejauh mata memandang, sebuah eksotisme keindahan alam yang sayang dilewatkan tanpa diabadikan. Tak heran jika para pengunjung

mengabadikan momentum munculnya matahari melalui kamera foto maupun video, sebagai sebuah kenangan untuk dibawa pulang.

Meski sebentar, pemandangan matahari kala terbit di ufuk timur memang bikin takjub dan memesona. Kemunculannya akan dinanti, apalagi jika cuaca cerah dan langit tak diliputi gumpalan awan tebal. Langit pagi nampak lebih berwarna, melengkapi keanggunan alam semesta di sekitar Bromo.

Ketika langit perlahan terang, nampaklah puncak Gunung Bromo yang berdekatan dengan sebuah gunung berwajah unik yakni Gunung Batok. Di balik Gunung Bromo terlihat puncak Gunung Semeru membiru, menjulang di kejauhan. (IA)*

Save

Check Also

Mengenal Batik Tulis Yogyakarta

JELAJAH NUSA – Sejak dinobatkan sebagai kota batik dunia, batik tulis Yogyakarta telah berkembang pesat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bankbjb.co.id